Pencitraan Politik di Social Media

Pengamat politik Indra J Piliang dan pengamat media sosial, Denny Charter dari indexpolitica.com menjadi narasumber diskusi politik Fajar Media Center (FMC) di Grha L9, Kamis (11/10)

Media konvensional bukanlah segala-galanya, termasuk dalam urusan pencitraan dan survei figur. Jika ingin memenangi pemilukada, saatnya melirik media sosial.

Hal itu tergambarkan dalam diskusi politik Fajar Media Center di Grha L9, Kamis (11/10). Dalam diskusi bertema “Pencitraan Politik di Media Sosial” tersebut, hadir pengamat politik Indra J Piliang, dan pengamat media sosial, Denny Charter dari indexpolitica.com, serta dipandu Koordinator Fajar Media Centre, Muhammad Ilham.

Pada kesempatan tersebut, Denny memaparkan, pengguna sosial media di Indonesia saat ini tercatat 49 juta user. Dengan jumlah pengguna yang besar tersebut, media sosial ini akan menjadi alat pencitraan yang kuat bagi kandidat, demikian pula untuk survei.

Penggunanya juga dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, ibu-ibu, sampai nenek-nenek. Dari 49 juta user media sosial di Indoensia tersebut, sekitar 19,5 juta di antaranya aktif di media sosial Twitter. Makassar lanjut Denny, adalah kota terbesar kelima untuk pengguna media sosial di Indonesia.

Twitter ini sebut Denny, masih jadi penakar utama untuk mengukur bagaimana tingkat voice dan netizen dari kandidat. Pasalnya, twitter lebih realtime ketimbang media sosial lainnya. “Twitter itu adalah mikroblogging, dia realtime, selalu update tiga sampai empat jam,” jelasnya.

Berbeda dengan facebook. Facebook sebut Denny, lebih cocok untuk branding. Demikian pula Youtube, butuh bandwidth yang besar, dan hanya bisa dibuka dengan perangkat tertentu, sehingga kata Denny, twitter masih menjadi pilihan untuk kandidat yang membutuhkan pencitraan dan mensosialisasikan dirinya.

Dicontohkan, pasangan calon gubernur Sulsel, Ilham Arief Sirajuddin-Azis Qahhar Mudzakkar (IA), tampaknya masih harus menggenjot popularitasnya di media sosial. Pasalnya, untuk media sosial sekelas twitter, pasangan Syahrul Yasin Limpo-Agus Arifin Nu’mang (Sayang), masih unggul ketimbang rival terberatnya tersebut. Data dari indexpolitica.com, menunjukkan, dari segi tema percakapan (Share of Voice), Sayang masih unggul dalam percakapan di twitter dengan angka 58,97 persen, IA 39,66 persen, dan Andi Rudiyanto Asapa-Andi Nawir (Garuda-Na) 1,38 persen.

Demikian pula unit user (Share of Netizen) di twitter, sebagian besar masih membincangkan pasangan Sayang dengan angka 56,76 persen, IA 41,08 persen, dan Garuda-Na 2,16 persen.

Pengamat politik, Indra J Piliang menilai, media sosial tidak bisa lagi dinafikan. Dia memang adalah alam maya, namun sangat mempengaruhi realitas. Pengguna media sosial juga adalah vooters pada high level, dan bisa mempengaruhi orang lain. Media sosial lanjut dia, akan memberikan dampak pada mesin politik. Pasalnya, dalam media sosial, kecenderungan untuk mencari teman lebih tinggi ketimbang mencari musuh, sehingga aktivitasnya lebih cenderung merangkul orang lain.

“Sebagai lima besar, media sosial di Makassar akan berpengaruh banyak pada politik di Sulsel. Akan terjadi geosphora, di mana perantau Makassar yang aktif di sosial media, akan memberi pengaruh pada pilihan politik pemilih di Makassar. Cuma pertanyaannya, apakah kandidat di Sulsel bisa menguasai media sosial ini,” bebernya.

Sumber  http://rakyatsulsel.com/pencitraan-politik-di-media-sosial.html

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s